Tifa, Alat Musik Khas Papua Pembuatannya Unik dan Sarat Makna

24 September 2021, 23:51 WIB

SKALA.ID – Perhelatan PON XX Papua, banyak hal unik dan menarik yang berasal dari wilayah yang berjuluk Bumi Cendrawasih. Salah satunya adalah traditional bernama .

Alat musik khas Indonesia bagian Timur, baik wilayah Maluku dan Papua ini bentuknya hampir mirip dengan kendang. sendiri terbuat dari kayu yang di lubangi tengahnya.

Dilansir dari Infopublik.id, praktisi budaya Suku Kamoro, Dominggus Kapiyau menjelaskan makna bagi suku Kamoro. Dimana menurut Dominggus, ibarat ibu dan bapak yang selalu memberikan informasi kepada anak-anak, keluarga dan masyarakat satu kampung.

Baca juga: Marlina Octoria Kekueh Seret Ayah Taqy Malik ke Jalur Hukum

“Untuk menyampaikan informasi penting, masyarakat Suku Kamoro menggunakan tifa sebagai alat komunikasi,” jelasnya.

Informasi disampaikan dalam bentuk pantun yang dinyanyikan dengan iringan tifa. Misalnya satu keluarga ingin membangun rumah dan membutuhkan bantuan masyarakat.

Kami mau bangun rumah tapi seng atau atap ini dari daun rumbia belum jadi. Kami sendiri tidak mampu jadi mari datang supaya kita kerja sama-sama bantu bantu kami supaya atap bisa tertutup.

Baca Juga: Woow Buah Terbesar di Dunia Ini Tumbuh di Indonesia, Tinggi Pohon Hingga 30 Meter

“Kami tidak ada uang tapi nanti kami bakar sagu untuk kami buat sagu sinole, bakar ikan dan dimakan bersama,” ujar Dominggus menirukan pantun yang kerap dinyanyikan masyarakat.

Selain sebagai alat komunikasi, tifa juga lebih sering digunakan untuk mengiringi tarian. Tabuhan tifa menjadi tanda untuk mengumpulkan orang.

Suku Kamoro yang merupakan suku asli Mimika yang tinggal di pesisir Mimika. Untuk membuat tifa, masyarakat menggunakan kayu khusus.

Baca Juga: Kedapatan Bawa Sabu, Dua Pria Diciduk Ditresnarkoba Polda Kepri

Masyarakat sering menyebutnya pohon susu atau tutu dalam bahasa Kamoro. Bisa juga dengan kayu perau atau yare (bahasa Kamoro). Batang pohon dipahat membentuk tifa.

Untuk menghasilkan bunyi, tifa dilapisi kulit biawak atau soa-soa. Darah manusia digunakan sebagai perekat. Darah orang yang diambil tidak sembarangan. Ada orang khusus yang darahnya diambil pada bagian lutut yang dicampur dengan kapur.

Kapur sendiri terbuat dari kulit bia atau kerang yang dibakar. Untuk membakar kulit bia, diperlukan teknik khusus. Kayu bakar disusun rapi berbentuk persegi. Kulit kerang yang dibakar akan terkelupas.

Baca Juga: Nahdlatul Ulama Banten Seriusi Peredaran Miras Beralkohol

Kerang berwarna putih kemudian ditumbuk hingga berbentuk serbuk. Lalu dicampur denan air dalam wadah dari tempurung kelapa kering.

“Setelah itu dimasak lagi sampai kering. Dijemur baru digunakan. Ada obat khusus digunakan untuk campur,” jelas Dominggus.

Jadi dikatakan Dominggus, tifa ini memiliki nilai filosofis dan digunakan dalam upacara adat. Ketika upacara adat, tifa dipukul untuk memanggil arwah leluhur untuk datang hadir di tempat dilaksanakannya pesta atau upacara adat.****

Artikel Terkait