Profesor Ini Patenkan Tiga Motif Batik Karyanya, Salah Satunya Motif Benteng Pendem

Angkat ciri khas lokal dijadikan motif batik, profesor dari UNS ini patenkan motifnya/foto. Humas UNS

2 Maret 2022, 20:50 WIB

SKALA.ID – Tuangkan ciri khas daerah dalam bentuk motif batik, Profesor bidang ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Izza Mafruhah mematenkan tiga motif batik karyanya.

Profesor yang kerap disapa Prof. Izza tersebut mematenkan tiga motif batik bernama Benteng Pendem, Waduk Pondok dan Edi Tirto. Ketiga motif batik ini diilhami dari kekhasan daerah masing-masing.

Berawal dari penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan dengan grup riset, Prof. Izza berinisiatif untuk membuatkan batik dengan motif khas daerah yang diteliti.

Motif batik Benteng Pendem dan Waduk Pondok yang diciptakannya terinspirasi dari kekhasan Kabupaten Ngawi. Sementara itu, motif terakhir tercetus dari kekhasan yang dimiliki Kabupaten Sragen.

“Dalam falsafah Jawa ada ungkapan ajining raga saka busana yang berarti kehormatan badan dilihat dari busananya. Nah, dari situ kami tertarik untuk membuat batik. Batik kan kalau dilihat bagus dan indah gitu. Jadi kita mempromosikan daerah melalui pakaian tadi,” ucap profesor di bidang Ekonomi Pembangunan dalam rilisnya, Rabu (2/3/2022).

Prof. Izza mengembangkan motif batik dengan konsep HEBAT. Konsep tersebut merupakan singkatan dari heritage, ecology, batik, agriculture, and tourism. Melalui konsep tersebut, Prof. Izza berusaha untuk merekam kekhasan suatu daerah dari segi peninggalan sejarah, ekologi, batik, pertanian, dan pariwisata.

Dua motif awal yang dikembangkan oleh Prof. Izza terinspirasi dari kekhasan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kabupaten tersebut memiliki banyak wisata alam seperti Waduk Pondok dan Benteng Pendem. Selain itu, ada pula wisata sejarah yakni Museum Trinil di Ngawi.

Batik bermotif Waduk Pondok dan Benteng Pendem itu juga dibuat dengan teknik khusus. Dua motif batik tersebut dibuat dengan perpaduan batik tulis dan cetak. Pembuatanya memanfaatkan malam dingin. Keuntungan teknik ini yakni motif batik timbul seperti pada batik tulis, tetapi pengerjaannya lebih cepat karena dicetak menggunakan malam dingin.

“Nah, yang ini perpaduan antara tulis dan cetak. Batik ini kita cetak dengan malam dingin atau lilin itu ya. Kalau batik tulis kan pakai malam panas ya dan memakan waktu lama sehingga tidak setiap pengrajin batik siap karena dia harus punya serep gitu. Satu batik tulis tu mungkin makan waktu sampai beberapa minggu. Jadi, kita siapkan model ini sehingga cepat produksi serta kalau dilihat seperti batik tulis,” ujar Prof. Izza yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan Riset, Akademik, dan Kemahasiswaan FEB UNS.

Sementara itu, motif batik yang dikembangkan pada 2021 terinspirasi dari kekayaan Kabupaten Sragen. Prof. Izza dan timnya memadukan burung Branjangan yang merupakan burung khas Sragen dengan Waduk Kedung Ombo serta peninggalan purbakala di Museum Sangiran.

Selain itu, motif batik yang dinamakan Edi Tirto itu juga dilengkapi dengan gambar humus serta batang gabah. Humus dan batang gabah tersebut perlambang kemakmuran dan kesuburan yang ada di Kabupaten Sragen. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa Kabupaten Sragen merupakan penghasil padi terbesar ketiga di Jawa Tengah.

“Ini ada tulisan Memayu Hayuning Bawana di motif batik Edi Tirto. Kalimat itu adalah salah satu slogan yang ada di FEB yang artinya mempercantik bumi yang sudah cantik. Memayu menambah ayu, hayuning kecantikan, dan bawana bumi. Menambah kecantikan bumi yang sudah cantik,” bebernya.

Prof. Izza dan tim mempercayakan produksi batik bermotif khas tersebut kepada para UKM yang ada di Kabupaten Sragen. Beliau mengatakan sengaja tidak bekerja sama dengan pabrik besar karena ingin turut menyejahterakan pengrajin daerah.

“Kami memang nggak mau ke pabrik besar, kami inginnya ke UKM supaya dapat menumbuhkan UKM-UKM batik di sana. Kami lebih puas karena bisa membantu,” tutur Prof. Izza.

Batik motif ciptaannya kini sudah dilirik banyak pembeli. Bahkan, motif batik Edi Tirto dijadikan batik seragam di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS. Prof. Izza berharap motif batik tersebut dapat membawa kebermanfaatan untuk banyak pihak seperti UNS, pemerintah daerah, dan masyarakat umum.***

Artikel Terkait