Primata Terkecil di Dunia Ada di Sulawesi dan Dikenal Setia Dengan Satu Pasangan

Primata terkecil di dunia, dikenal hanya memiliki satu pasangan/foto. Wikipedia

26 Februari 2022, 17:16 WIB

Primata Terkecil di Dunia Ada di dan Dikenal Setia Dengan Satu Pasangan

SKALA.ID – Ada satu satwa endemik Pulau Sulawesi berukuran mini dikenal dengan nama . Di Sulawesi disebut Tangkasi. Masuk kategori primata terkecil di dunia. Ukurannya tak lebih dari genggaman tangan orang dewasa.

Dengan ukuran tubuh yang begitu kecil, jantan memiliki lingkar kepala sekitar 85 mm, panjang tubuh tak lebih dari 160 mm, dan uniknya memiliki panjang yang ekor antara 135-275 mm atau hampir dua kali lipat panjang badannya.

Dengan kaki belakang yang panjangnya dua kali lipat ukuran badan, satwa endemik Pulau Sulawesi, bisa melompat hingga jarak tiga meter. Ia juga sangat romantis, akan membujang seumur hidup jika pasangannya mati.

Menurut peneliti hewan langka dan perubahan iklim dari Universitas Indonesia, Mochamad Indrawan, tarsius adalah satwa romantis karena ia hanya memilih satu pasangan. Jika pasangannya itu mati, maka ia akan kembali membujang seumur hidupnya.

Dikutip dari laman Indonesia.go.id, Sulawesi sendiri merupakan surga bagi tarsius. Habitatnya berada di antara pepohonan besar di tengah hutan rimba sebagai tempat ia hinggap.

Salah satu wilayah yang banyak didiami tangkasi, bahasa setempat untuk tarsius, adalah kawasan biosfer Cagar Alam Tangkoko Batuangus, Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung, Sulawesi Utara. Di cagar alam seluas sekitar 8.745 hektare itulah tinggal si mungil Tarsius tarsier atau dikenal juga dengan nama Tarsius spectrum.

Tarsius jenis itu juga mudah ditemui di Suaka Margasatwa Tandurusa di Aer Tembaga. Banyak menghabiskan waktu di ketinggian pohon-pohon besar.

Tarsius juga merupakan satwa nokturnal atau sangat aktif pada malam hari. Mereka mulai beraktivitas dan keluar dari sarangnya sore hari untuk memulai penjelajahan di daerah jelajah mereka (home range) dan kembali ke sarang menjelang pagi.

Mereka begitu lincah menjelang peralihan waktu dari siang kepada malam (crespuscular). Pada saat-saat tersebut, antara pasangan tarsius jantan dan betina akan mengeluarkan suara bersahut-sahutan yang biasa disebut duet call.

Pada siang hari, banyak menghabiskan waktu dengan bersembunyi atau tidur. Tidak seperti mamalia lainnya, tarsius tidur dengan cara menempel di dahan. Ketika tidur, tarsius bisa memejamkan hanya sebelah matanya dan satu matanya terbuka. Ia memiliki mata yang besar dan bercahaya. Berbeda dengan hewan nokturnal lain, tarsius tidak memiliki daerah pemantul cahaya atau tapetum lucidum di matanya. Lapisan ini merefleksikan cahaya yang masuk melalui retina, sehingga menambah jumlah cahaya yang masuk ke dalam sel fotoreseptor.

Dengan kondisi mata serupa itu, kemampuan melihat dalam kondisi gelap lebih tinggi. Dan itu menjadi keistimewaan tarsius, karena membuat penglihatannya pada malam hari menjadi lebih tajam.

Mata pada tarsius merupakan organ terbesar dibanding organ kepala lainnya, dengan diameter bola mata hingga sekitar 16 mm. Selain itu, tarsius juga dapat memutar kepalanya hingga 180 derajat ke arah manapun untuk melihat mangsanya, mirip seperti burung hantu. Mereka juga menggunakan vokalisasi (suara) yang efektif untuk berkomunikasi di antara anggota kelompok maupun dengan individu dari kelompok lainnya.

Tarsius memiliki rambut tebal dan halus yang menutupi tubuhnya. Warna rambut bervariasi, tergantung dari jenis, yaitu merah tua, cokelat, atau keabu-abuan. Tarsius memiliki ciri khas yaitu adanya rambut warna putih di belakang telinga dan rambut penutup telinganya berwarna abu-abu.

Tarsius berkembang biak dengan cara beranak, setelah melewati masa kehamilan selama enam bulan. Ular, burung hantu, biawak, dan tikus merupakan predator alami bagi tarsius. Satwa ini juga kerap diburu manusia untuk dijual atau dijadikan hewan peliharaan. Meski belum diketahui jumlah pasti dari tarsius saat ini, maraknya perburuan oleh manusia telah menyebabkan populasi tarsius menjadi makin langka. Bahkan salah satu spesiesnya, Tarsius pumilus sempat dinyatakan punah.***

Artikel Terkait