Penyangga Budaya Nusantara, Tradisi Khas Lebaran Masyarakat Osing Terus Terjaga

ritual tahunan oleh Suku Osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi/dok Kemenkopmk.go.id

8 Mei 2022, 11:54 WIB

SKALA.ID – Suku Osing atau suku Using adalah penduduk asli daerah . Menurut cerita masyarakat, suku tersebut merupakan keturunan rakyat Kerajaan Blambangan yang mengasingkan diri pada zaman Majapahit. Nama Osing diberikan oleh penduduk pendatang yang menetap di daerah itu pada abad ke-19.

Kata Osing atau Using berarti tidak, hal ini menunjukkan sikap warga yang menolak pengaruh dari luar pada zaman dulu. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Osing yang merupakan turunan dari bahasa Jawa Kuno.

Suku Osing Banyuwangi merupakan salah satu penyangga budaya sangat menyakini perihal mitos – mitos yang berkaitan dengan keberadaan mereka. Keyakinan tersebut diwujudkan dalam berbagai ritual budaya seperti Tumpeng Sewu dan Ritual Tari Seblang.

Tradisi Minta Hujan, Kearifan Lokal Masyarakat di Berbagai Daerah di Indonesia

Di Desa Kemiren yang menjadi salah satu basis masyarakat Osing terdapat satu lagi ritual selamatan serupa yakni Ider Bumi atau Barong Ider Bumi. ini merupakan salah satu ritual tahunan oleh Suku Osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi.

Sebuah upacara sinkretisme yang ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan masyarakat desa yang juga bisa disebut sebagai Ritual Pengusir bahaya (Tolak Bala). Tradisi ini rutin dilaksanakan pada bulan Syawal, tepatnya pada hari kedua Lebaran Idul Fitri.

Istilah Ider Bumi ada karena memiliki makna. Disebutkan oleh Poerwadarmito (1939:33 dan 167) kata ider berarti berkeliling kemana-mana, dan kata bumi artinya jagat atau tempat berpijak. Dari arti kedua kata tersebut, Ider Bumi dimaksudkan sebagai kegiatan mengeliling tempat berpijak atau bumi.

Tradisi Barong Ider Bumi sangat disambut oleh segenap masyarakat osing karena terkait dengan keyakinan akan keberadaan Danyang Dusun Kemiren yakni Buyut Cili.

Wow.. Ternyata Indonesia Memiliki Olahraga Tradisional Tradisional, Salah Satunya Bahkan Telah Mendunia 

Dikatakan bahwa Buyut Cili hanyalah sebuah mitos karena memang tidak ditemukan satupun bukti otentik mengenai cerita tersebut. Satu-satunya yang menjadikan cerita mengenai Buyut Cili tetap diyakini hanyalah berdasarkan keterangan lisan warga setempat.

Mitos yang diceritakan turun temurun tersebut telah diyakini adanya dan selalu hadir dalam kepercayaan masyarakat osing. Dijadikan pedoman hidup untuk selalu berbuat baik dan ingatan bahwa diluar mereka terdapat kekuatan lebih besar yang mampu mempengaruhi.

Sejarah 

Ritual Idher Bumi dimulai dari peristiwa yang terjadi sekitar tahun 1800-an. Pada saat itu Desa Kemiren terserang Pageblug atau Blindeng dalam Bahasa Kemiren. Pageblug adalah sebuah keadaan bencana tiba-tiba yang menjadi momok bagi sebagian besar Masyarakat Jawa.

Di Desa Kemiren, peristiwa ini tidak hanya menyebabkan tanaman di sawah warga di serang hama namun juga menyebabkan kematian sebagian warga. Desa Kemiren memperlihatkan suasana ketakutan hingga diceritakan pada malam hari mereka tidur berkelompok dan tidak berani untuk tidur dirumah sendiri.

Melalui kejadian tersebut, para sesepuh desa berinisiatif untuk mendatangi atau berziarah ke Makam Buyut Cili. Mereka berharap mendapatkan petunjuk untuk memberantas pageblug yang melanda desa mereka. Selang beberapa hari mereka mendapatkan wangsit lewat mimpi.

Wangsit tersebut mengisyaratkan masyarakat Desa Kemiren diharuskan mengadakan upacara slametan dan arak-arakan yang melintasi jalan desa.

Setelah masyarakat melaksanakan apa yang menjadi petunjuk dari Buyut Cili, semua penyakit atau pagebluk hilang. Menurut salah satu sumber bahwa dari peristiwa tersebutlah Ritual Ider Bumi tetap dilakukan.

Artikel Terkait