Nahdlatul Ulama Banten Seriusi Peredaran Miras Beralkohol

11 September 2021, 00:26 WIB

SKALA.ID – Peredaran minuman keras beralkohol menjadi perbincangan serius bagi semua komponen bangsa Indonesia. Tak terkecuali peredaran tersebut tengah diperbincangkan Nahdlatul Ulama.

Perbincangan peredaran miras mulai dari regulasi pemerintah yang masih pro-kontra terkait apakah pemerintah cukup membuat aturan dalam konteks pengawasan dan pengendaliannya atau harus sampai pada pelarangan total terhadap minuman beralkohol tersebut.

Ketua Lakpesdam PWNU , Abdul Kodir mengatakan, dalam peredaran miras terlebih lagi jika melihat pada kemajemukan social, budaya dan agama ditengah masyarakat yang berbeda di berbagai daerah Indonesia.

Baca Juga: TNI AL Siap Bantu Enam Kapal Generator Oksigen Mobile di Daerah

“Sebagian berprinsip bahwa minuman memabukan adalah haram, namun sebagian lainnya membolehkan bahkan mengkonsumsinya dalam berbagai acara dan lain-lain,” terang Abdul Kodir kepada Skala.id, Jum’at 10 September 2021.

“Sementara, dibalik pro-kontra persoalan RUU minuman beralkohol, dampak negatif dari minuman beralkohol bahkan miras terus terjadi ditengah masyarakat, terlebih dikalangan pemuda,” ujarnya.

Sementara, Ketua Fraksi , Ferdiansyah menilai pengambil kebijakan sudah menjadikan permasalahan miras ini sebagai agenda utama pembahasan yang bertumpu pada Perda No.4 tahun 2014.

Baca Juga: Hindari Risiko Bencana Krakatau, Hewan Rencananya Species Ini Dipindah ke Wilayah Taman Nasional Halimun

Namun begitu, kata Ferdiaansyah, masyarakat harus terus diedukasi mengenai perbedaan minuman beralkohol dengan miras .

“Karena dampak dan bahaya miras oplosan yang sebetulnya adalah racun karena kandungan miras oplosan bukanlah zat yang bisa diterima oleh tubuh, tetapi zat yang sangat berbahaya yang akan menghilangkan nyawa seseorang sia-sia,” katanya.

Sementara itu, Dosen Antropolologi UI Drs. Raymond Michael Menot melihat hal ini sebagai problem berskala nasional. Raymond berpendapat dampak pelarangan secara nasional minuman beralkohol sangat diskriminatif.

Baca Juga: Lapas Kelas I Tangerang Terbakar Hebat, Kapolda Metro Jaya: 41 Orang Meninggal

“Karena akan menyebabkan dampak turunan yang lebih luas, seperti minuman oplosan yang dikonsumsi sebagaian masyarakat yang dengan dosis yang tidak terukur sehingga potensi kematian yang lebih tinggi,” ujar Raymond.

Artikel Terkait