Masjid Kuno Berusia Ratusan Tahun Ini, Peninggalan Kerajaan Pajang

Masjid ini dibangun pada tahun 1546 pada masa Sultan Hadiwijaya, salah satu sultan Kesultanan Pajang, yang merupakan cikal bakal dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta/istimewa

3 April 2022, 20:24 WIB

SKALA.ID – Masjid peninggalan era pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Kerajaan Pajang, yakni jauh sebelum berdirinya Masjid Agung Solo, pada 1763 dan 300 tahun sebelum berdirinya .

Salah satu masjid di Solo yang menjadi bukti dan saksi sejarah syiar agama Islam masa lampau dan masih berdiri dengan kokoh adalah . Meski sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu namun kondisinya masih kuat dan dijadikan tempat beribadah umat muslim sampai saat ini.

Masjid Laweyan merupakan masjid tertua di ini menjadi salah satu pusat penyiaran agama Islam. Masjid ini didirikan saat pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Kerajaan Pajang, yakni jauh sebelum berdirinya Masjid Agung Solo, pada 1763 dan 300 tahun sebelum berdirinya .

Keren… Mahasiswa Unisri Solo Raih Emas Dalam Kejuaraan Internasional Asian Taekwondo Championship 2022

Masjid Laweyan ini di bangun pada masa Kerajaan Pajang sekitar tahun 1546. Awalnya bangunan ini adalah Pura karena kerajaan jaman dulu dipengaruhi kultur Hindu. Merupakan pura milik Ki Ageng Belukan, tokoh yang juga pemuka agama Hindu

Uniknya bangunan masjid ini Masjid Laweyan dipengaruhi arsitektur Hindu-Jawa. Terlihat dari bentuk ruang ruang masjid yang di bagi menjadi tiga. Yakni ruangan induk, serambi kanan dan serambi kiri. Serambi kanan menjadi tempat khusus putri atau keputren, sedang serambi kiri merupakan perluasan untuk tempat shalat jamaah.

Sebab itulah bentuk dari bangunan Masjid Laweyan merupakan pengaruh Hindu-Jawa. Terlihat dari tata ruang dan juga sisa ornamen yang ada di masjid. Luas masjid ini 18×9 meter, bangunannya terbuat dari kayu jati kuno, dan memiliki empat menara kecil di setiap sudutnya.

Megibung Tradisi Makan Bersama di Karangasem

Seiring masuknya ajaran Islam, pura tersebut beralih fungsi menjadi pusat syiar Islam. Atas campur tangan dari Ki Ageng Henis, seorang penasihat spiritual Kerajaan Pajang, juga sahabat Sunan Kalijaga maka pura tersebut di jadikan masjid sebagai tempat mensyiarkan agama Isalam.

Akhirnya Ki Ageng Beluk pemilik pura tersebut tertarika dan kemudian memeluk Islam. Bahkan makam Ki Ageng Beluk dan Ki Ageng Henis berada di kompleks pemakaman di samping masjid.

Menurut pengurus Masjid Laweyan Wahid Isnanto, menyebutkan mulai berdiri sampai saat ini namanya tetep Masjid Laweyan sesuai wilayahnya yakni Laweyan. Pada masa perkembangan Masjid Laweyan juga pernah menjadi pesantren yang memiliki banyak santri.

Situs Kuno di Lereng Lawu, Punden Berundak

Bahkan ada kisah saking banyaknya santri yang mondok, karenanya pengurus memasak nasi terus menerus untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Sehingga di dalam dapur asap dari tungku tidak pernah berhenti dan terus mengebul.

“Hingga kampung tempat pesantren tersebut dikenal dengan Kampung Kabelukan yang berasal dari kata beluk (asap).

Sementarai itu Ahmad Yani, salah satu warga Pajang yang sering Sholat di Masjid ini sebut selama bulan Ramadan ini pendatang dari dari luar kota yang melakukan iktikaf di masjid. Terutama pada sepuluh hari terakhir.

“Pada bulan Ramadhan banyak kegiatan keagamaan di sini. Buka puasa dan beritikaf di masjid,” pungkasnya.

Artikel Terkait