Mantan Pejabat Taliban Mendesak Negara-negara Untuk Mengakui Pemerintahan Baru Afghanistan

Banyak orang Afghanistan takut akan kembalinya kekuasaan brutal Taliban antara tahun 1996 dan 2001, ketika hak-hak perempuan sangat dibatasi dan kelompok itu menjatuhkan hukuman yang tegas sesuai dengan interpretasi kerasnya terhadap hukum Islam

3 September 2021, 00:20 WIB

KABUL – Pendiri dan mantan kepala biro politik , Sayed Muhammad Tayyab Agha, telah mendesak kelompok bersenjata untuk melibatkan orang-orang dari etnis yang berbeda ketika membentuk pemerintahan baru, beberapa hari setelah kelompok Afghanistan mengatakan pembentukan pemerintahan baru berada di tahap akhir.

Agha juga mengatakan kelompok itu harus mencakup kaum muda, khususnya, bahkan jika mereka telah bekerja dengan mantan pemerintah yang didukung AS.

Dia juga meminta masyarakat internasional – terutama negara-negara dari Organisasi Kerjasama Islam – serta PBB dan untuk mengakui pemerintahan baru.

Baca Juga: Presiden Rusia Vladimir Putin Sebut 20 Tahun Amerika Serikat Duduki Afghanistan Tanpa Hasil

Agha, yang menjabat sebagai komisaris politik di bawah mantan pemimpin Mullah Mohammad Omar, meminta masyarakat internasional untuk tidak mengisolasi Afghanistan.

Pernyataan Agha datang dua hari setelah AS menarik pasukan terakhirnya dari negara itu setelah 20 tahun perang.

Artikel Terkait