Makin Tahun Lahan Petani Kian Menyusut Tergerus Alih Fungsi Lahan

24 September 2021, 23:29 WIB

SKALA. ID – Peringati ke 58, sejatinya kehidupan petani belumlah sejahtera. Kehidupan keluarga tani di masih jauh dari sukses. Padahal petani adalah ‘pahlawan pangan’. Petani yang mencukupi kebutuhan beras masyarakat .

Ketua Kelompok Tani Hutan Cetho Bersinar, Yanto sampaikan kondisi di tahun tahun 1957 rata-rata kepemilikan tanah petani miskin di Indonesia seluas 0,5 hektare.

Hal itu dipaparkan dalam acara Saresehan Nasional diikuti kelompok tani, kelompok tani hutan se Kecamatan Jenawi. Lokasi acara di pertapaan Pura Pamoksan kawasan wisata Candi Cetho.

Baca Juga: Geopark Belitong Diakui Dunia, Salah Satunya Juru Sebrang Bekas Bekas Penambangan Timah

Sayangnya ungkap Yanto, dari tahun ke tahun kepemilikan luas tanah pertanian rakyat semakin menyusut. Terlebih lagi di kawasan Jawa-Bali-Madura yang padat penduduk, kepemilikan lahannya dibawah 0,2 hektar per kepala keluarga.

“Bila lahan pertanian sangat sempit, bagaimana petani dapat sejahtera,” ucapnya, Jumat (24/9/2021).

Ditambahkn Yanto, masalah tanah pertanian adalah masalah dasar, bila hal ini tidak terpecahkan, maka
rakyat tani Indonesia mengalami kemiskinan massal hingga anak-cucunya nanti.

Baca Juga: Young K Ingin Menyampaikan Kaleidoskop Emosi Melalui Eternal

Berbagai program mengatasi ketimpangan kepemilikan tanah selama 20 tahun terakhir belum menunjukkan hasil maksimal. Bahkan seringkali terjadi alih fungsi lahan.

“Semisal untuk pengembangan perkebunan sawit, karet, hutan tanaman industri, taman nasional dan konsesi pertambangan,” imbuhnya.

Imbasnya lahan pertanian makin menyempit sehingga sumber penghidupan petani terancam. Permasalahan juga masih mengancam keberadaan para petani.

Baca Juga: Tandang Uji Coba ke Pemalang, Persika Karanganyar Tahan Imbang Tuan Rumah PSIP 1-1

“Selain lahan tani semakin sempit, petani juga dihadapkan langka dan mahalnya pupuk, benih tanaman,” tandasnya.

Belum lagi menghadapi serangan hama tanaman yang pastinya membutuhkan obat-obatan pembasmi hama. Hingga perubahan iklim yang semakin memperburuk situasi jagat pertanian Indonesia.

“Ditambah lagi harga-harga produk pertanian yang sering turun-naik tidak stabil, lebih sering jatuh
merosot sehingga petani merugi,” keluhnya.

Baca Juga: Rutan Solo Overload, Walikota Rencanakan Pemindahan Rutan ke Luar Daerah

Yang dibutuhkan saat ini adalah tanah yang cukup bagi petani
penggarap sebagai syarat utama bagi lapangan pekerjaan, serta pangan yang cukup bagi keluarga tani dan seluruh rakyat satu negeri.

“Hal lainnya adalah tingkatkan
subsidi pupuk dan sarana pertanian. Juga hentikan impor pangan asing,” tandasnya.

Kelompok Tani Hutan Cetho Bersinar juga melaksanakan penanaman bibit kopi secara simbolis sekaligus acara selamatan (syukuran) awal tanam kopi.****

Artikel Terkait