Kisah Pahlawan Nasional Dari Lereng Gunung Lawu, Yang Membuat Pasukan Belanda Kocar Kacir

Gapura pintu masuk makam Pangeran Sambernyawa

18 Februari 2022, 15:58 WIB

SKALA. ID – Kisah perjuangan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I atau lebih dikenal dengan sebutan dan memiliki nama kecil  Raden Mas Said sudah tidak diragukan lagi. Berperang melawan ketidakadilan dan  membela tanah airnya dari penjajahan Belanda (Kompeni).

Dilansir dari berbagai sumber, pada tahun Pada 1983, Pemerintah Indonesia menganugrahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Mangkunegara I karena karena jasa-jasa kepahlawanannya. Dengan mendapat penghargaan Bintang Mahaputra.

Raden Mas Said, terlahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725, putera dari Pangeran Mangkunegara Kendang (putra sulung Amangkurat IV) dan  R. Ay. Wulan, puteri Pangeran Blitar. Sedangkan kakeknya adalah Sinuwun Amangkurat IV.

Inilah Sosok Panglima Perang Wanita Pertaman Dari Pura Mangkunegaran

Nama R.M Sahid sendiri merupakan pemberian dari neneknya sebelum wafat, yang artinya bahwa Sri Sunan masih bisa ‘menangi’ (melihat)kelahiran cucunya sebelum wafat.

Sejak usia ramaja RM Said adalah sosok yang tangguh, kuat dan memiliki bakat berperang. Saat terjadi pemberontakan kaum pedagang Cina di Kraton Kartosura yang lebih dikenal dengan ‘geger pecinan’ Raden Mas Said berhasil menumpasnya.

Perjuangannya melawan penjajah Kompeni dan juga kerajaan yang pro kepada Kompeni selama hampir 16 tahun lamanya dengan pertempuran sebanyak 250 kali. Dengan jumlah pasukan yang terbatas dan peralatan perang yang sederhana dan minim, seperti keris, tombak dan pistol hasil rampasan tentara Kompeni.

Apa Kabar Suksesi Pura Mangkunegaran? Dua Bulan Sepeninggal MN IX Tahta Masih Kosong

Diantaranya bertempur melawan  VOC dengan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman di sebelah selatan  Rembang, di hutan Sitakepyak. Raden Mas Said berhasil menebas kepala kapten Van der Pol dengan tangan kirinya. Kemudian penyerbuan ke benteng Vredeburg Belanda dan keraton Yogya-Mataram karena Raden Mas Said marah VOC membakar dan menjarah harta benda penduduk desa.

Dalam berperang Raden Mas Said menggunakan motto yang menjadi semangat bertempur pasukannya yakni ‘tiji tibeh’ (mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh) yang artinya gugur satu gugur semua, sejahtera satu sejahtera semua.

Belanda sangat mengakui kehebatan Raden Mas Said, baik kesaktian, maupun strategi perangnya. Ia dikenal sebagai panglima perang yang berhasil membina pasukan yang militan. Dari sinilah ia dijuluki “”, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai penyebar maut.

Pura Mangkunegaran Memiliki Motif Batik Khusus, Berbeda Dengan Kasunanan Surakarta

Kehebatan Mangkunegoro dalam strategi perang bukan hanya dipuji pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Tak kurang dari Gubernur Direktur Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Mangkunegoro.

Salah satu lokasi yang dijadikan lokasi benteng pertahanan adalah wilayah Sapta Tirta Pablengan. Meski bentengnya hancur, namun Sapta Tirta Pablengan tidak terusik.  Bahkan tentara VOC mengaku kalah dengan taktik perang gerilya dan pasukannya.***

Artikel Terkait