Kampung Rajungan Paciran Lamongan, Berkontribusi Terhadap Perekonomian Nasional

Kampung Rajungan Paciran Lamongan, Berkontribusi Terhadap Perekonomian Nasional.

21 Februari 2022, 12:40 WIB

SKALA.ID – Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di kampung Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, adalah bagian dari dukungan terhadap program prioritas.

Hal tersebut disampaikan Plt Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kusdiantoro.

“Salah satunya adalah pembangunan kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal,” kata Kusdiantoro dalam keterangan resmi KKP,  Minggu (20/2/2022) kemarin.

Pembangunan kampung perikanan adalah salah satu program yang akan diakselerasi pada tahun 2022. Pembangunan tersebut bertujuan untuk memperkuat ketahanan masyarakat dan mendorong pembangunan di berbagai daerah.

Empu Pembuat Keris Buatkan Pusaka Amangkurat Mangkunegara Bagi Ketua DPD Partai Golkar Karanganyar Ilyas Akbar Almadani, Apa Maknanya?

Ada tiga kategori kampung, yaitu kampung perikanan budidaya pedalaman untuk komoditas air tawar, kampung perikanan budidaya pesisir untuk komoditas payau, serta kampung perikanan budidaya laut.

Kusdiantoro menyebut Desa Paciran populer dengan sebutan , karena sebagian besar warganya berprofesi sebagai nelayan rajungan. Tercatat sebanyak 1.142 nelayan tergabung ke dalam tujuh Kelompok Usaha Bersama (KUB). Tak ayal, produksi rajungan mampu menggerakkan desa, bahkan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Cetak Sejarah Kali Pertama Juara BATC 2022, Merah Putih Kembali Berkibar Iringi Kemenangan Bulutangkis Putri Indonesia

“Setiap tahunnya, rata-rata hasil tangkapan rajungan mencapai 389.250 kilogram dengan taksiran nilai produksi lebih dari Rp46 miliar. Bahkan berhasil menembus pasar ekspor, terutama Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan,” imbuhnya.

Tak hanya itu, kegiatan hilirisasi usaha rajungan sudah berjalan aktif. Ada sembilan Unit Pengolahan Ikan (UPI) berskala mikro dan kecil atau disebut miniplant dan telah tergabung ke dalam Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Gampang Rukun dan Poklahsar Persaudaraan Ibu Nelayan (PIN).

“Penyerapan tenaga kerjanya pun melibatkan masyarakat setempat yang kebanyakan istri nelayan dengan rata-rata pekerja 10-80 orang per miniplant. Khusus untuk Poklahsar,” pungkasnya.***

Artikel Terkait