Inilah Sosok Panglima Perang Wanita Pertama Dari Pura Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran sukses lahirkan pasukan tempur wanita dikenal dengan prajurit estri

16 Februari 2022, 22:35 WIB

SKALA.ID – Perjuangan heroik Raden Mas Said untuk melawan penjajahan Kompeni tidak kenal takut. Baik dirinya maupun pasukannya.

Dengan mengobarkan semangat perjuangan ‘tijitibeh (mati siji mati mabeh, mukti siji mukti kabeh) menjadi senjata ampuh kobarkan semangat perjuangan Raden Mas Said dan pasukannya.

Dikutip dari laman puramangkunegaran.com, Raden Mas Said yang kemudian bergelar Pangeran Sambernyawa jauh sebelum muncul pasukan elit modern bernama Legiun Mangkunegaran, telah ada sebelumnya kelompok wanita menjadi pasukan perangnya.

Dinamakan prajurit estri (pasukan perempuan) yang merupakan warisan dari Sultan Agung. Warisan itu kemudian diteruskan oleh Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I.

Tradisi Bau Nyale, Inspirasi Kisah Putri Mandalika, Penasaran?

Prajurit estri beranggotakan perempuan muda dan cantik yang mahir berperang. Mereka memiliki keahlian perang seperti memainkan tombak, pedang, dan menembak. Dipimpin oleh panglima wanita bernama Matah Ati.

Prajurit estri pandai menunggang kuda dan mampu menembakkan senapan dengan tepat sasaran. Pada umumnya, keterampilan mereka lebih tinggi dari prajurit lelaki terlatih pada masa itu. Pasukan ini layaknya pasukan khusus yang bisa melakukan berbagai tugas-tugas rahasia.

Namun di sisi lain, prajurit estri itu tetap menampakkan sifat asli putri yang terkenal lemah lembut. Mereka tidak hanya dilatih memainkan senjata dan berperang, tetapi juga menari, menyanyi, dan memainkan alat musik.

Fakta Baru di Balik Napak Tilas Keraton Surakarta di Jatisari, Gusti Moeng: Perjanjian Giyanti Tanpa Melibatkan PB III

Di balik kehebatan prajurit estri, terdapat orang yang membentuknya. Para perempuan desa itu dilatih keprajuritan oleh Pangeran Sambernyawa. Mereka juga dipimpin oleh panglima perempuan pemberani bernama Matah Ati.

Matah Ati tidak lain adalah istri dari Pangeran Sambernyawa. Selalu setia mendampingi perjuangan gerilya Pangeran Sambernyawa melawan VOC-Belanda. Beliau dikenang sebagai panglima prajurit estri.

Pura Mangkunegaran Memiliki Motif Khusus, Berbeda Dengan Kasunanan Surakarta

Prajurit wanita (estri) juga berisi prajurit caping, prajurit gendewa dan prajurit senapan. Salah satu peristiwa pertempuran besar terjadi di kemiringan bukit di Desa Selogiri, Wonogiri. Peristiwa tersebut bergolak pada era awal 1700-an ketika Pangeran Sambernyawa bergerilya melawan kekuatan kolonial.

Diceritakan dalam peperangan mereka membaur dengan pasukan Pangeran Sambernyawa. Dengan formasi setengah lingkaran, mereka mengepung tentara Belanda. Terjadi peperangan seru antar kedua belah pihak. Meski banyak jatuh korban, pada akhirnya perang besar itu dimenangkan oleh prajurit estri.

Makam Matah Ati seoarang senopati perang wanita dengan prajurit setianya yang sama-sama berjuang hingga akhir hayat, dimana semuanya adalah prajurit wanita dimakamkan di Gunung Wijil, Selogiri, Wonogiri.***

Artikel Terkait