Ini Keistimewaan Nasi Grombyang Khas Pemalang Yang Masuk Warisan Budaya

13 November 2021, 22:10 WIB

SKALA.ID – Kuliner khas Pemalang nasi Grombyang, baru saja ditetapkan sebagai Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kuliner berbahan utama nasi putih dan daging sapi atau kerbau berbumbu rempah ini, proses pengolahannya membuat makanan tersebut menjadi istimewa.

Dikutip dari Diskominfo Jateng, nama grombyang berasal dari bahasa Pemalang yang berarti berarti mengapung di permukaan atau bergoyang-goyang. Dalam penyajiannya, komposisi kuah lebih banyak ketimbang nasinya, sehingga nasi dapat mengapung dan bergoyang-goyang di antara kuah. Nama grombyang tidak bisa didapati di kota-kota lain, sangat ikonik dan unik.

Baca Juga: The Alana Hotel Kembali Hadirkan Menu Daging Domba Istimewa

Tidak diketahui dengan pasti kapan makanan khas ini mulai diciptakan. Konon, nasi grombyang sudah ada sejak 1960-an. Pada waktu itu penjual nasi grombyang menjual dagangannya secara tidak menetap, tetapi berkeliling kampung.

Salah seorang pewaris nasi grombyang, Waridin menceritakan, dirinya sudah mulai membuka usaha jual nasi grombyang sejak 1978, yang sebelumnya ikut membantu pamannya, Warso dalam usaha yang sama.

“Awalnya ikut paman jual nasi grombyang, akhirnya buka sendiri sejak tahun 1978 sampai sekarang. Dulu dari harga 15 perak (Rp15), sampai sekarang sudah Rp16 ribu per porsi,” katanya.

Baca Juga: Berikan Pelayanan Terbaik, The Alana Hotel and Convention Center Solo Raih AGODA Gold Circle Award

Menurut Waridin, membuat nasi grombyang lebih rumit ketimbang soto daging ataupun daging kuah lainnya. Mulai memasak daging, mengiris, ditambah menu kaldunya yang terbuat dari kluwak, serundeng serta lemak daging itu sendiri. Kuahnya pun dibumbui rempah, seperti lengkuas, jahe, kunyit, daun salam, kemiri, dan lainnya. Kemudian sebelum disajikan ditaburi irisan onclang dan bawang merah.

“Kalau dulu pakai daging kerbau, tapi karena sekarang sulit akhirnya pakai daging sapi. Butuh dua sampai tiga jam untuk membuat nasi grombyang,” jelasnya.

Waridin mengaku bangga usahanya melanjutkan resep nenek moyangnya itu berbuah manis, setelah nasi grombyang ditetapkan menjadi salah satu WBTB.

Baca Juga: Mobil Bung Karno Buatan Amerika Ikut Dipamerkan di Munas PPMKI di Solo

“Saya senang dan bangga ini tercatat sebagai Budaya,” paparnya.

Artikel Terkait