Ini Adalah Boneka Arwah Yang Dikenal di Tanah Jawa

Masyarakat Jawa juga mengenal boneka arwah, salah satunya jalangkung

9 April 2022, 05:19 WIB

SKALA.ID -Dalam budaya Jawa ada sebuah boneka yang dipercaya sebagai media mendatangkan arwah. Masyarakat biasa menyebutnya Jalangkung. Sedangkan, di daerah lain disebut Nini Thowok atau Nini Thowong.

Hal itu disampaikan pemerhati budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tundjung Wahadi Sutirto.

Menurutnya Jalangkung itu terbuat dari gayung atau di Jawa disebut dengan siwur (alat untuk mandi) yang terbuat dari bathok (kulit kelapa) dan diberikan ragangan kayu untuk tangan.

Boneka Arwah Menurut Mitologi Jawa

“Kalau Jalangkung itu dipersonifikasikan sebagai figur laki-laki maka yang personifikasinya perempuan disebut dengan Nini Thowok,” jelas Tundjung dikutip dari uns.ac.id

Tundjung menjelaskan, dalam khasanah kebudayaan Jawa dijadikan media untuk mengetahui hal-hal gaib yang berada di luar kemampuan kesadaran manusia.

Misalnya, dalam permainan Jalangkung, arwah yang datang bisa ditanya siapa namanya, kapan meninggalnya, dan memberikan informasi terhadap sesuatu yang akan terjadi.

Boneka Pocong Penggoda Komunitas Uji Nyali Di Puncak Bukit Taruwongso

Bahkan, disebut Tundjung bisa digunakan untuk menyakiti orang. Dalam praktik santet dan teluh, bagian tubuh bisa direkayasa untuk menyakiti orang yang dijadikan target.

“Misalnya, dengan ditusuk bagian jantungnya boneka itu kemudian jantungnya orang yang jadi sasaran korban juga akan tersakiti. Tetapi, tidak sedikit yang menggunakan media boneka arwah seperti Jalangkung itu untuk iseng permainan di kala bulan purnama,” ungkapnya.

Dirinya juga menyatakan, tidak ada momentum khusus yang merujuk pada kepopuleran boneka arwah.
Meski begitu, penggunaan kekuatan spiritual dalam konteks historis perilaku sering kali muncul saat masa-masa krisis.

“Contohnya ketika terjadi krisis ekonomi di tahun 1929, muncul dan populer visualisasi makhluk halus yang disebut dengan Nyi Blorong,” lanjut Tundjung.

Kemudian di era revolusi Indonesia pascakemerdekaan, mulai muncul banyak aliran kebatinan yang menjadi era suburnya kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.

“Jadi, konstruksinya hampir sama bahwa boneka arwah itu tetap ada dari dulu hingga sekarang sebagaimana era yang diklasifikasikan sebagai era ontologi seperti saat ini tetapi faktanya era mistis masih selalu ada dan berkembang sesuai konteks zamannya,” pungkas Tundjung. ***

Artikel Terkait