Hadir Dalam Tawur Agung Kesanga Nyepi, Wamenag: Jadikan Agama Sumber Inspirasi

Upacara Tawur Ahung Kesanga Nyepi di pusatkan di pelataran candi Prambanan/Biro Humas Kemenag

3 Maret 2022, 14:32 WIB

SKALA.ID  – Upacara yang menjadi rangkaian dari perayaan Hari Raya , Tahun Baru Caka 1944. dipusatkan di pelataran Candi Prambanan.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Menteri Agama (Wamenag) Kementerian Agama (Kemenag), Zainut Tauhid Sa’adi.

Mewakili Menteri Agama, Wamenag menyampaikan Selamat Hari Raya Tahun Baru Caka 1944. Kepada umat Hindu, Wamenag berpesan tentang pentingnya menjadikan agama sebagai sumber inspirasi.

“Dalam berbagai kesempatan, Bapak Menteri Agama selalu menekankan bahwa agama harus menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan pemahaman ini maka diharapkan dalam beragama tak hanya akan terwujud kedekatan makhluk dengan Tuhan, namun juga memunculkan sikap saling menghormati, toleransi dan sekaligus memuliakan alam seisinya,” pesan Wamenag di Prambanan, sebagaimana dilansir Kemenag, Rabu (2/3/2022).

Peringatan Hari Suci Nyepi kali ini mengusung tema “Aktualisasi Nilai Tattwam Asi dalam Moderasi Beragama menuju Indonesia Tangguh”. Menurut Wamenag, perayaan Dharma Santi Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1944 ini tepat untuk menjadi momentum mengimplementasikan ajaran “tat twam asi” yang bermakna “aku adalah engkau”. 

“Ajaran ini harus menginspirasi untuk saling menghormati, saling rukun, dan bertoleransi,” tegas Wamenag. 

“Dengan inspirasi ajaran “tat twam asi” tersebut, sudah sepatutnya umat Hindu memperlakukan orang lain apa pun agama, suku, dan kelas sosialnya secara adil tanpa ada diskriminasi,” ungkapnya. 

Wamenag menilai ajaran “tat twam asi” menjadi salah satu inti moderasi beragama yang roadmap-nya telah selesai disusun oleh Kementerian Agama dan akan menjadi acuan kehidupan bermasyarakat di seluruh Indonesia.

Berkenaan dengan Nyepi, Wamenag mengatakan bahwa inti dari perayaan itu adalah  “menyepikan diri”. Umat Hindu diajak untuk melakukan “pengendalian diri” dengan empat cara yaitu:  Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan, yang dikenal dengan Catur Brata.

Pelaksanaan Catur Brata penyepian, kata Wamenag, merupakan kesempatan bagi umat Hindu untuk melakukan renungan suci dan intropeksi diri secara mendalam sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Sehingga, umat Hindu bisa menemukan cahaya teduh diri dan menjadi lentera dalam menatap masa depan bangsa dan negara.

“Dengan memaknai Hari Raya Nyepi, saya percaya umat Hindu akan dapat lebih berkontribusi dan berperan aktif dalam menciptakan keharmonisan, memelihara kerukunan, dan membangun rasa persaudaraan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang cinta damai,” ujarnya.

“Seluruh umat Hindu dapat menjadikan perbedaan-perbedaan yang ada sebagai perekat persatuan dan persaudaraan antar sesama anak bangsa,” pungkasnya.***

Artikel Terkait