Esai berjudul Peningkatan Kesetaraan Pendidikan di Daerah 3T, Antar Mahasiswa UNS Raih Juara 2 Lomba Esai Nasional

Keduanya berkompetisi dalam event Pekan Keilmuan Sosial Politik (PKSP) 2021 yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

20 Agustus 2021, 23:12 WIB

SOLO – Dua mahasiswa (UNS) raih juara 2 pada kategori lomba esai tingkat Nasional. Karya esai tersebut berjudul “Reality (Reading While Learning Technology) Program: Upaya Peningkatan Angka Minat Membaca dan Pengenalan Teknologi Bagi Anak-Anak di Daerah 3T”.

Mereka adalah Aulia Maulani Syifa Nur Hidayati dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Muhammad Zidni Subarkah, mahasiswa Program Studi (Prodi) Statistika angkatan 2019.

Keduanya berkompetisi dalam event Pekan Keilmuan Sosial Politik (PKSP) 2021 yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) (UMY).

Muhammad Zidni Subarkah sebut ide awal gagasan yang diusungnya dilatarbelakangi atas keinginan untuk menyuarakan gagasan berupa program edukasi di daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T).

“Saya melihat melihat fasilitas teknologi di daerah 3T masih belum memadai dan menunjang pendidikan” paparnya dalam rilis yang diterima Skala.id, Jumat (20/8) sore.

Terlebih lagi dalam kondisi pandemi Covid-19 menjadi fokus perhatian utama. Digitalisasi yang terjadi saat ini akibat pandemi mendorong semua daerah beradaptasi dalam penggunaan teknologi.

Karena itulah esai ini disusun agar daerah 3T tidak semakin tertinggal.Pasalnya saat daerah yang maju ter-presure dan semakin meningkat (kacakapan teknologinya), maka daerah 3T akan tertinggal juga dilakukan presure untuk belajar teknologi.

“Itulah alasan kami mengangkatnya (judul) agar daerah 3T tidak semakin tertinggal,” imbuhnya.

Keduanya berharap Reality Program yang diusung bisa meningkatkan minat membaca sekaligus menjadi media pengenalan teknologi bagi anak-anak di daerah 3T.

Mekanisme yang dijelaskan Muhammad Zidni Subarkah adalah saat anak belajar teknologi di perpustakaan menggunakan gawai. Sebelum mereka bisa mencoba teknologi pada laptop atau komputer yang tersedia, mereka diwajibkan mempelajarinya dahulu dengan membaca.

“Sekali dayung, satu dua pulai bisa terlampaui. Bisa bermanfaat bagi anak-anak di daerah 3T,” pungkasnya. (Tyo)***

Artikel Terkait