Artefak Asal Karangnongko Klaten Dipindah ke Monumen Juang

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengumpulkan ODCB yang tersebar agar lebih terawat

17 Oktober 2021, 11:40 WIB

SKALA.ID –  yang ditemukan di Desa Demakijo dan Desa Gumul, Kecamatan Karangnongko ke Monumen Juang.

Pemindahan oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) melalui Bidang Kebudayaan  dilakukan sebagai upaya pelestarian benda cagar budaya hasil temuan masyarakat.

Kepala Bidang Kebudayaan, Yuli Budi Susilowati mengatakan Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) tersebut dipindahkan pada Selasa 12 Oktober 2021 lalu dari lokasi ke Monumen Juang. 

Baca Juga: 
Ada Sendang Didalam Gedung Dinas Arpus Klaten, Konon Airnya Tak Pernah Surut

“Sebelumnya artefak tersebut tersebar di lahan milik masyarakat seperti areal persawahan, perkebunan, hingga tepi jalan umum,” jelasnya dilansir dari laman klatenkab.go.id.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengumpulkan ODCB yang tersebar agar lebih terawat dan terlestarikan. Karena, meski berada di lahan milik warga, tidak ada yang merawat. 

Diantara artefak yang dipindahkan salah satunya berupa yoni, sementara sisanya pecahan arca dan batuan. Kegiatan ini juga bagian dari inventarisasi dan identifikasi benda cagar budaya.

Baca Juga: 
Vaksinasi di Klaten Capai 55 Persen

“Kalau tidak kami kumpulkan, dikhawatirkan bertambah rusak hingga sulit untuk diidentifikasi. Padahal artefak yang ditemukan bisa jadi memiliki catatan sejarah yang penting,” paparnya.

Selanjutnya pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) untuk melakukan identifikasi lebih lanjut. 

Wilayah Kecamatan Karangnongko diperkirakan masih menyimpan banyak artefak yang masih belum ditemukan, terlebih di wilayah tersebut banyak terdapat situs bersejarah seperti Candi Merak.

Baca Juga: 
PPKM Soloraya Turun Level, Presiden Jokowi Tinjau Vaksin Door to Door di Wilayah Klaten dan Sukoharjo

Susi menjelaskan sebagian masyarakat masih belum memahami pentingnya pelestarian benda cagar budaya. Sehingga sebagian artefak yang ditemukan oleh warga kondisinya tidak terawat.

“Ada sebagian lainnya terawat dan dilestarikan oleh masyarakat, seperti artefak yang kondisinya tidak terpendam. Namun ada juga yang sampai beralih fungsi sebagai batu fondasi karena ketidaktahuan sebagian masyarakat. Ini merupakan tugas kami untuk memberikan edukasi agar semakin banyak masyarakat yang memahami pelestarian benda cagar budaya,” pungkasnya.***

Artikel Terkait